(MASIH ADA REMBULAN)
Ia termenung
menatap luasnya cakrawala.
Seorang
pemudi cantik dengan mata cerah serta rambut yang terurai dan terpancar indah
terkena hempasan lembut angin dan pancaran sinar mentari. Pipinya indah dengan
warna kemerahan di kedua sisinya. Gadis itu mengenakan baju merah yang sewarna
dengan celana panjangn yang dikenakannya.
Di balik
indah raganya, ia kini sedang meratapi gelap gulitanya jalan kehidupan yang ia
hadapi, bukan hanya kehidupannya saat ini, tetapi kehidupannya selama ini. Ia
tak menanggapi apapun yang lalu lalang di hadapannya, ia merasakan ada hal yang
patut ia ubah dalam kehidupannya. Ia merasa bosan dengan semuanya. Merasa kalut
dengan kehidupannya, dan bertekat berbelok arah yang tak searah dengan jalannya
yang dulu yang menenggelamkan semuanya.
Gadis
itu cantik rupawan itu bernama Sefi.
Lima
tahun terakhir adalah waktu yang teramat panjang dan waktu yang teramat sangat
ingin ia lupakan. Berawal dari keinginannya memperoleh penghasilan serta
pengalaman kerja, ia mencoba mengadu nasib di tengan hiruk pikuknya kehidupan di salah satu kota besar di jawa
barat, tepatnya di kota Bandung. Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang
cukup mapan didaerahnya, Sefi merasa belum puas dan belum merasakan kebahagiaan
dalam kehidupannya, ia merasa terasingkan dan tertutup dengan dunia luar yang
seolah sudah menggerogoti kehidupan seluruh lapisan masayarakat, terkecuali dia.
Dengan keberaniannya, selepas ia menyelesaikan studinya di salah satu SMA di
daerahnya, ia memberanikan diri untuk minta restu dari orang tua untuk mencari
pekerjaan serta pengalaman di perkotaan.
“Pak,
Buk… eee.. berkenankah Bapak Ibuk kalau aku minta izin untuk bekerja di kota?”,
tanya sefi kepada kedua orang tuanya dengan sedikit keraguan.
“Nak……
kamu serius ingin bekerja di kota?, kamu masih belum berpengalaman dalam
bekerja”, Jawab si Ibu dengan perasaan sedih.
“Biarkan
saja toh bu, biarkan si Sefi mencari pengalaman dan jati dirinya di luar sana”
“kalau bapak tidak apa-apa kamu ke luar kota,
demi masa depanmu, bapak izinkan.” Sahut bapaknya menanggapi jawaban si Ibu
yang seolah enggan melepaskan anaknya.
“Pak….
Ibu tidak tega pak”, Bisik ibu kepada
bapak.
“Sudahlah
bu…. Biarkan Sefi mencari dunianya.”
”Nduk…
ya sudah, kami mengijinkan kamu untuk pergi keluar kota, tapi ingat nduk, jaga
diri baik-baik”, dengan berat hati si ibu menjawab permintaan anaknya
“iya bu, Sefi
akan jaga diri baik-baik, terima kasih ibu, terimakasih bapak” ucap Sefi
sembari menangis serta memeluk erat kedua orang tuanya.
Dini
hari di awal juli, adalah dimulainya lembaran baru kehidupannya. Segala barang
yang sekiranya ia perlukan sudah ia kemas dalam tas besarnya dan bersiap
memasuki kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat tujuannya.
“Bu…Pak…
Sefi pamit berangkat dulu”
“iya
nduk…hati-hati..” ucap kedua orang tuanya melepas kepergian anaknya.
selepas ia memasuki kendaraan, terlihat sepintas muncul raut
kesedihan dan setetes air mata yang mengalir membasahi pipinya, yang menyertai
waktu bisu yang menjadi saksi perpisahan keluarga kecil ini.
Di
kota, ia bekerja sebagai pelayan restoran di salah satu hotel ternama. Berbekal
ijazah SMA dan penampilan yang menarik, tanpa waktu lama si pemilik restoran
langsung setuju untuk menggunakan jasanya. Sepekan ia bekerja di sana, tak
merasakan hal yang aneh dalam pikirannya, namun tak disangka tak diduganya, ada
oknum, bernama Roni. Roni adalah salah satu
dari beberapa pelanggan restoran tersebut. Ia mempunyai rencana licik
untuk mempengaruhi pikiran si Sefi.
Berawal
dari perkenalan singkat saat Sefi mengantarkan makanan ke meja Rony, dengan
cepat ia dapat ngobrol Sefi yang saaat itu terlihat letih. Roni menawarkan
pekerjaan kepada Sefi dengan bayaran yang dihitung perjam, bukan perbulan. Sefi
langsung tertarik.
“Sefi…
apa kamu gak bosan kerja di restoran?, kalau kamu mau, saya ada prkerjaan untuk
kamu dengan bayaran jauh dari pekerjaanmu ini.” bujuk Roni.
“pekerjaaan
apa mas?”
“sudahlah
kamu akan sangat gampang mendapat penghasilan banyak dari pekerjaan ini, kalau
memang berminat, besuk malam temui aku di halte bus depan!”
“iya
mas… besuk akan saya tunggu masnya di sana”
“oke
!” kata singkat penuh senyum keberhasilan dari roni mengakhiri obrolan mereka.
Malam jam 8 mereka bertemu di halte.
Sefi
tak mengerti mau dibawa kemana ia.
“mas
kita ini mau kemana?”
“sudah..kamu
tenang saja.”
Selang
beberapa menit, sampailah mereka di pelataran parkir sebuah hotel mewah. Disitu
Roni memaksa Sefi untuk masuk tanpa Sefi mengetahui keinginan jelas di Roni.
Tanpa piir panjang, hantaman keras tangan Roni memukul telak wajah Sefi yang
seketika membuat pingsan perempuan cantik itu.
Selepas
itu, Sefi tak menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, sampai pada keesokan
harinya ia terbangun dan menyadari tubuhnya bagai binatang yang tanpa penutup
apapun, ia menangisi apa yang telah terjadi dengannya, ia menyadari apa yang
terjadi padanya. Sampai pada akhirnya tawa keras ia dengan dari balik pintu..
“haha…….
Sefi…Sefi…Sefi.. inilah pekerjaan yang aku tawarkan kepadamu., bagaimana?”
“kurang
ajar kamu..”
“haha….dan
ini bayaranmu, sepadan dengan bayaranmu sebulan di restoran.” Berlembar-lembar
uang bergambar presiden pertama Indonesia ia lemparkan ke hadapan Sefi.
Inilah
yang merubah kehidupan Sefi, Melimpahnya uang, gemerlapnya malam,
melemparkannya dalam kehidupan yang jauh dari pikiran awalnya mencari nafkah.
Walaupun
pada awalnya ia sangat tertekan dengan apa yang telah terjadi, tetapi perlahan
ia mulai menikmati dunia gelapnya. Hampir setiap hari ia melewati malam dengan
berteman syetan-syetan dunia. Ia merasa bebas dengan dunianya saat ini, tanpa
memikirkan keluarga yang ia tinggalkan di desa. Ia seolah lepas dari tanggung
jawabnya sebagai anak dan merasa lepas dari Dzat yang telah melahirkannya di
dunia. Bahkan tanpa ia sadari sudah berlarut-larut waktu yang ia lewati dengan
bermandikan dosa. Tanpa ia sadari ia telah menabung begitu banyak untuk
membangun rumah yang akan ia tempati
besok di neraka, begitu antusias ia menemani para lelaki hidung belang yang
membawa uang panas yang besok di akhirat aka ia belikan jus timah yang mendidih sebagai minumannya kelak.
Sungguh jauh dari kata baik apa yang ia lakukan
saat ini.
Sampai
pada akhirnya kejadian yang tak Sefi duga datang menghampirinya. Seperti biasa, suatu malam ia setia menunggu tamu. Datanglah satu
lamu yang merupakan pejabat teras di
salah satu kota di Jawa Tengah yang tengah melakukan kegiatan pemerintahan.
Tanpa Sefi sadari, ternyata pejabat tersebut merekam seluruh kegiatan yang
mereka lakukan di suatu kamar. Dan berselang 1 bulan setelah kejadian itu,
karena keteledoran si pejabat, rekaman tersebut pun menyebar luar di sosial
media. Dari kejadian ini, seluruh masyarakat luas bisa melihat dengan bebas,
dan pihak polisi pun mengetahui kejadian
ini. Tanpa butuh waktu yang lama, keduanya diamankan oleh pihak kepolisian.
Tak
terelakkan lagi kejadian ini menyebar pula ke daerah asal Sefi, sontak
mencoreng nama baik keluarganya. Kedua orang tuanya shock luar biasa
mendengar kabar ini. Selain mencoreng nama baik, kabar ini pun menghapus
persepsi masyarakat yang mengcap Sefi sebagai gadis yang baik, hilang seketika.
Bagai panas yang dihapus hujan yang hanya sehari.
Sementara
Sefi hanya bisa meratapi apa yang telah terjadi.
“Ya
Alloh…. Kenapa hamba bisa sampai terjatuh ke lubang hina ini…”, tangis Sefi di
suatu malam.
“kenapa
Ya Alloh…. Ampuni dosa-dosa hamba yang teramat besar ini… ampuni ya Alloh..”.
Salah
seorang warga binaan ditempat ia di amankan oleh pihak kepolisian, ada yang
mendengar tangisannya,dan ia pun dengan sinisnya berkata “ he……perempuan bejat,
untuk apa kau menangisi kesalahanmu, kamu sudah sangat kotor, tidak bisa
dibersihkan lagi.. hahaha.., apalagi hanya menggunakan air matamu itu.”
“tidak
mungkin Tuhan mau menerima tangisanmu yang hanya sandiwaramu saja,
paling-paling setelah kamu keluar nanti akan mengulangi perbuatanmu ini.”, bentaknya
sembari menatap sinis pada wajah Sefi.
Sefi
hanya bisa menangis malam itu, meratapi seluruh kejadian itu yang tak ia sadari
sudah berlangsung selama 5 tahun. Ia menagis, kenapa selama 5 tahun ia tak
sadar sudah bergelimbung dengan dosa yang teramat besar. Ia pun bertekat
merubah semuanya menjadi lebih baik lagi, ia bertekat melupakan apa yang telah terjadi dan mencoba membuka
pintu yang baru yang akan membawa ia memasui ruang yang lebih cerah.
“ya
Alloh atas namaMu dan dihadapanMu, aku berjanji akan memperbaiki kehidupanku,
beri hamba jalanMu beri hamba petunjukMu.”, doanya di tengah malam selepas
sholatnya. Hari-hari pun berlalu dengan perubahan yang meningkat setiap
harinya, ia mulai rajin beribadah dan perlahan berhasil melepaskan kehidupan
kelamnya di masa sebelum ia masuk dan terdata sebagai warga binaan.
Namun,
perubahan yang terjadi pada dirinya, tidak di sambut baik oleh keluarganya.
Keluarganya sangat benci padanya, sampai menganngap di tak lagii anak dari
kedua orang tuanya. Seolah menutup mata apapun yang terjadi Pada Sefi.
Masa
penahanan Sefi pun berakhir.
Namun,
tak sekalipun ia menerima besukan, dari siapapun. Pada hari pertama ia
menghirup udara besbas, ia memberanikan diri untuk pulang. Tapi, tak
disangkanya, penolakan mentah-mentah dari keluarga mengurungkan niat beserta
keinginnanya untuk tinggal dirumah yang merupakan tempat kelahirannya.
Ia
hanya bisa menangis meratapi kejadian sembari berjalan mengitari jalanan yang
tak tahu tujuan akhir dar perjalannannya. Ia berhenti di suatu tempat, dimana
di sana ia menatap luas ciptaanNya. Ia tak mempedulikan apa yang terjadi di
sekitarnya. Dan terfokus hanya pada masalah yang telah ia hadapi dan bagaimana
caranya ia bisa keluar dan menyelesaikan permasalahan ini..
“Kenapa…..?
kenapa semuanya terjadi seperti ini, aku
sadar ini salahku, tapi berikanlah kepada hamba kesempatan, berikan
keluasan hati pada orang-orang di sekitarku, terumama kedua orang tuaku….”,
tangis Sefi.
“Ya
Alloh…………… Berikan petunjukMu, berikan hamba CahayaMU.” Teriaknya di tempat
itu.
Tanpa
ia sadari, ternyata sedari tadi kedua orang tuanya mengikuti serta melihat
semua yang terjadi pada Sefi..
“Nak………….pulanglah
!” panggil serta pinta Ibu Sefi dengan wajah yang penuh dengan peluh dan
tetesan air mata kebahagiaan.
.
“Pulanglah………………..”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar