Mengenai Saya

Foto saya
Muhammad Arif Hidayatullah, pemuda asal Dusun Winong Desa Sugiharjo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Jawa Timur. Dengan kebesaran Tuhan dan kekuasaanNya memerintahkannya menyelami dunia lewat kedua orang tua, Bapak Abdul Wachid dan Ibu Saminah. Ia dilahirkan tepat pada hari senin kliwon, 5 Juli 1993. Menempuh pendidikan SD di SD Negeri di tempat kelahiran, SDN 2 Sugiharjo. Sempat terseok-seok karena dari kelas 1-5 tidak pernah mendapatkan Rangking sama sekali. Namun mampu membuktikan di masa akhir kelulusannya, dengan meraih nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) tertinggi. Melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP N 4 TUBAN, di sekolah ini hanya pernah mewakili sekolah menjadi peserta lomba tilawatil Qur’an. Setelah lulus sekolah menengan pertama, melanjutkan pendidikan di SMK N 2 TUBAN mengambil jurusan Otomotif. Pernah mengikuti pemagangan pendidikan otomotif di syurabaya, dilanjutkan pemagangan di Tuban selama 4 bulan, namun semua tidak sejalan dan berjalan dengan lancer, sehingga panggilan pendidikan mengantarkanku masuk bangku kuliah di Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (UNIROW Tuban) mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Jumat, 29 April 2016

(MASIH ADA REMBULAN)


(MASIH ADA REMBULAN)

Ia termenung menatap luasnya cakrawala.
Seorang pemudi cantik dengan mata cerah serta rambut yang terurai dan terpancar indah terkena hempasan lembut angin dan pancaran sinar mentari. Pipinya indah dengan warna kemerahan di kedua sisinya. Gadis itu mengenakan baju merah yang sewarna dengan celana panjangn yang dikenakannya.
Di balik indah raganya, ia kini sedang meratapi gelap gulitanya jalan kehidupan yang ia hadapi, bukan hanya kehidupannya saat ini, tetapi kehidupannya selama ini. Ia tak menanggapi apapun yang lalu lalang di hadapannya, ia merasakan ada hal yang patut ia ubah dalam kehidupannya. Ia merasa bosan dengan semuanya. Merasa kalut dengan kehidupannya, dan bertekat berbelok arah yang tak searah dengan jalannya yang dulu yang menenggelamkan semuanya.
Gadis itu cantik rupawan itu bernama Sefi.
Lima tahun terakhir adalah waktu yang teramat panjang dan waktu yang teramat sangat ingin ia lupakan. Berawal dari keinginannya memperoleh penghasilan serta pengalaman kerja, ia mencoba mengadu nasib di tengan hiruk pikuknya  kehidupan di salah satu kota besar di jawa barat, tepatnya di kota Bandung. Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang cukup mapan didaerahnya, Sefi merasa belum puas dan belum merasakan kebahagiaan dalam kehidupannya, ia merasa terasingkan dan tertutup dengan dunia luar yang seolah sudah menggerogoti kehidupan seluruh lapisan masayarakat, terkecuali dia. Dengan keberaniannya, selepas ia menyelesaikan studinya di salah satu SMA di daerahnya, ia memberanikan diri untuk minta restu dari orang tua untuk mencari pekerjaan serta pengalaman di perkotaan.
“Pak, Buk… eee.. berkenankah Bapak Ibuk kalau aku minta izin untuk bekerja di kota?”, tanya sefi kepada kedua orang tuanya dengan sedikit keraguan.
“Nak…… kamu serius ingin bekerja di kota?, kamu masih belum berpengalaman dalam bekerja”, Jawab si Ibu dengan perasaan sedih.
“Biarkan saja toh bu, biarkan si Sefi mencari pengalaman dan jati dirinya di luar sana”
 “kalau bapak tidak apa-apa kamu ke luar kota, demi masa depanmu, bapak izinkan.” Sahut bapaknya menanggapi jawaban si Ibu yang seolah enggan melepaskan anaknya.
“Pak…. Ibu tidak tega pak”,  Bisik ibu kepada bapak.
“Sudahlah bu…. Biarkan Sefi mencari dunianya.”
”Nduk… ya sudah, kami mengijinkan kamu untuk pergi keluar kota, tapi ingat nduk, jaga diri baik-baik”, dengan berat hati si ibu menjawab permintaan anaknya
“iya bu, Sefi akan jaga diri baik-baik, terima kasih ibu, terimakasih bapak” ucap Sefi sembari menangis serta memeluk erat kedua orang tuanya.

Dini hari di awal juli, adalah dimulainya lembaran baru kehidupannya. Segala barang yang sekiranya ia perlukan sudah ia kemas dalam tas besarnya dan bersiap memasuki kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat tujuannya.

“Bu…Pak… Sefi pamit berangkat dulu”
“iya nduk…hati-hati..” ucap kedua orang tuanya melepas kepergian anaknya.
selepas ia memasuki kendaraan, terlihat sepintas muncul raut kesedihan dan setetes air mata yang mengalir membasahi pipinya, yang menyertai waktu bisu yang menjadi saksi perpisahan keluarga kecil ini.

Di kota, ia bekerja sebagai pelayan restoran di salah satu hotel ternama. Berbekal ijazah SMA dan penampilan yang menarik, tanpa waktu lama si pemilik restoran langsung setuju untuk menggunakan jasanya. Sepekan ia bekerja di sana, tak merasakan hal yang aneh dalam pikirannya, namun tak disangka tak diduganya, ada oknum, bernama Roni. Roni adalah salah satu  dari beberapa pelanggan restoran tersebut. Ia mempunyai rencana licik untuk mempengaruhi pikiran si Sefi.
Berawal dari perkenalan singkat saat Sefi mengantarkan makanan ke meja Rony, dengan cepat ia dapat ngobrol Sefi yang saaat itu terlihat letih. Roni menawarkan pekerjaan kepada Sefi dengan bayaran yang dihitung perjam, bukan perbulan. Sefi langsung tertarik.
“Sefi… apa kamu gak bosan kerja di restoran?, kalau kamu mau, saya ada prkerjaan untuk kamu dengan bayaran jauh dari pekerjaanmu ini.” bujuk Roni.
“pekerjaaan apa mas?”
“sudahlah kamu akan sangat gampang mendapat penghasilan banyak dari pekerjaan ini, kalau memang berminat, besuk malam temui aku di halte bus depan!”
“iya mas… besuk akan saya tunggu masnya di sana”
“oke !” kata singkat penuh senyum keberhasilan dari roni mengakhiri obrolan mereka.
Malam  jam 8 mereka bertemu di halte.
Sefi tak mengerti mau dibawa kemana ia.
“mas kita ini mau kemana?”
“sudah..kamu tenang saja.”
Selang beberapa menit, sampailah mereka di pelataran parkir sebuah hotel mewah. Disitu Roni memaksa Sefi untuk masuk tanpa Sefi mengetahui keinginan jelas di Roni. Tanpa piir panjang, hantaman keras tangan Roni memukul telak wajah Sefi yang seketika membuat pingsan perempuan cantik itu.
Selepas itu, Sefi tak menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, sampai pada keesokan harinya ia terbangun dan menyadari tubuhnya bagai binatang yang tanpa penutup apapun, ia menangisi apa yang telah terjadi dengannya, ia menyadari apa yang terjadi padanya. Sampai pada akhirnya tawa keras ia dengan dari balik pintu..
“haha……. Sefi…Sefi…Sefi.. inilah pekerjaan yang aku tawarkan kepadamu., bagaimana?”
“kurang ajar kamu..”
“haha….dan ini bayaranmu, sepadan dengan bayaranmu sebulan di restoran.” Berlembar-lembar uang bergambar presiden pertama Indonesia ia lemparkan ke hadapan Sefi.
Inilah yang merubah kehidupan Sefi, Melimpahnya uang, gemerlapnya malam, melemparkannya dalam kehidupan yang jauh dari pikiran awalnya mencari nafkah.
Walaupun pada awalnya ia sangat tertekan dengan apa yang telah terjadi, tetapi perlahan ia mulai menikmati dunia gelapnya. Hampir setiap hari ia melewati malam dengan berteman syetan-syetan dunia. Ia merasa bebas dengan dunianya saat ini, tanpa memikirkan keluarga yang ia tinggalkan di desa. Ia seolah lepas dari tanggung jawabnya sebagai anak dan merasa lepas dari Dzat yang telah melahirkannya di dunia. Bahkan tanpa ia sadari sudah berlarut-larut waktu yang ia lewati dengan bermandikan dosa. Tanpa ia sadari ia telah menabung begitu banyak untuk membangun rumah yang akan  ia tempati besok di neraka, begitu antusias ia menemani para lelaki hidung belang yang membawa uang panas yang besok di akhirat aka ia belikan jus timah  yang mendidih sebagai minumannya kelak. Sungguh jauh dari kata baik apa yang ia lakukan  saat ini.
Sampai pada akhirnya kejadian yang tak Sefi duga datang  menghampirinya. Seperti biasa, suatu  malam ia setia menunggu tamu. Datanglah satu lamu yang merupakan  pejabat teras di salah satu kota di Jawa Tengah yang tengah melakukan kegiatan pemerintahan. Tanpa Sefi sadari, ternyata pejabat tersebut merekam seluruh kegiatan yang mereka lakukan di suatu kamar. Dan berselang 1 bulan setelah kejadian itu, karena keteledoran si pejabat, rekaman tersebut pun menyebar luar di sosial media. Dari kejadian ini, seluruh masyarakat luas bisa melihat dengan bebas, dan pihak polisi  pun mengetahui kejadian ini. Tanpa butuh waktu yang lama, keduanya diamankan oleh pihak kepolisian.
Tak terelakkan lagi kejadian ini menyebar pula ke daerah asal Sefi, sontak mencoreng nama baik keluarganya. Kedua orang tuanya shock luar biasa mendengar kabar ini. Selain mencoreng nama baik, kabar ini pun menghapus persepsi masyarakat yang mengcap Sefi sebagai gadis yang baik, hilang seketika. Bagai panas yang dihapus hujan yang hanya sehari.
Sementara Sefi hanya bisa meratapi apa yang telah terjadi.
“Ya Alloh…. Kenapa hamba bisa sampai terjatuh ke lubang hina ini…”, tangis Sefi di suatu malam.
“kenapa Ya Alloh…. Ampuni dosa-dosa hamba yang teramat besar ini… ampuni ya Alloh..”.
Salah seorang warga binaan ditempat ia di amankan oleh pihak kepolisian, ada yang mendengar tangisannya,dan ia pun dengan sinisnya berkata “ he……perempuan bejat, untuk apa kau menangisi kesalahanmu, kamu sudah sangat kotor, tidak bisa dibersihkan lagi.. hahaha.., apalagi hanya menggunakan air matamu itu.”
“tidak mungkin Tuhan mau menerima tangisanmu yang hanya sandiwaramu saja, paling-paling setelah kamu keluar nanti akan mengulangi perbuatanmu ini.”, bentaknya sembari menatap sinis pada wajah Sefi.
Sefi hanya bisa menangis malam itu, meratapi seluruh kejadian itu yang tak ia sadari sudah berlangsung selama 5 tahun. Ia menagis, kenapa selama 5 tahun ia tak sadar sudah bergelimbung dengan dosa yang teramat besar. Ia pun bertekat merubah semuanya menjadi lebih baik lagi, ia bertekat melupakan  apa yang telah terjadi dan mencoba membuka pintu yang baru yang akan membawa ia memasui ruang yang lebih cerah.
“ya Alloh atas namaMu dan dihadapanMu, aku berjanji akan memperbaiki kehidupanku, beri hamba jalanMu beri hamba petunjukMu.”, doanya di tengah malam selepas sholatnya. Hari-hari pun berlalu dengan perubahan yang meningkat setiap harinya, ia mulai rajin beribadah dan perlahan berhasil melepaskan kehidupan kelamnya di masa sebelum ia masuk dan terdata sebagai warga binaan.
Namun, perubahan yang terjadi pada dirinya, tidak di sambut baik oleh keluarganya. Keluarganya sangat benci padanya, sampai menganngap di tak lagii anak dari kedua orang tuanya. Seolah menutup mata apapun yang terjadi Pada Sefi.
Masa penahanan Sefi pun berakhir.
Namun, tak sekalipun ia menerima besukan, dari siapapun. Pada hari pertama ia menghirup udara besbas, ia memberanikan diri untuk pulang. Tapi, tak disangkanya, penolakan mentah-mentah dari keluarga mengurungkan niat beserta keinginnanya untuk tinggal dirumah yang merupakan tempat  kelahirannya.
Ia hanya bisa menangis meratapi kejadian sembari berjalan mengitari jalanan yang tak tahu tujuan akhir dar perjalannannya. Ia berhenti di suatu tempat, dimana di sana ia menatap luas ciptaanNya. Ia tak mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dan terfokus hanya pada masalah yang telah ia hadapi dan bagaimana caranya ia bisa keluar dan menyelesaikan permasalahan ini..
“Kenapa…..? kenapa semuanya terjadi seperti ini, aku  sadar ini salahku, tapi berikanlah kepada hamba kesempatan, berikan keluasan hati pada orang-orang di sekitarku, terumama kedua orang tuaku….”, tangis Sefi.
“Ya Alloh…………… Berikan petunjukMu, berikan hamba CahayaMU.” Teriaknya di tempat itu.
Tanpa ia sadari, ternyata sedari tadi kedua orang tuanya mengikuti serta melihat semua yang terjadi pada Sefi..
“Nak………….pulanglah !” panggil serta pinta Ibu Sefi dengan wajah yang penuh dengan peluh dan tetesan air mata kebahagiaan.
.
“Pulanglah………………..”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar