Mengenai Saya

Foto saya
Muhammad Arif Hidayatullah, pemuda asal Dusun Winong Desa Sugiharjo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Jawa Timur. Dengan kebesaran Tuhan dan kekuasaanNya memerintahkannya menyelami dunia lewat kedua orang tua, Bapak Abdul Wachid dan Ibu Saminah. Ia dilahirkan tepat pada hari senin kliwon, 5 Juli 1993. Menempuh pendidikan SD di SD Negeri di tempat kelahiran, SDN 2 Sugiharjo. Sempat terseok-seok karena dari kelas 1-5 tidak pernah mendapatkan Rangking sama sekali. Namun mampu membuktikan di masa akhir kelulusannya, dengan meraih nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) tertinggi. Melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP N 4 TUBAN, di sekolah ini hanya pernah mewakili sekolah menjadi peserta lomba tilawatil Qur’an. Setelah lulus sekolah menengan pertama, melanjutkan pendidikan di SMK N 2 TUBAN mengambil jurusan Otomotif. Pernah mengikuti pemagangan pendidikan otomotif di syurabaya, dilanjutkan pemagangan di Tuban selama 4 bulan, namun semua tidak sejalan dan berjalan dengan lancer, sehingga panggilan pendidikan mengantarkanku masuk bangku kuliah di Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (UNIROW Tuban) mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Jumat, 29 April 2016

PUNCAK ABADI PARA DEWA (Salah satu cerpen yang ada pada buku antologi cerpen "PENAKLUK PUNCAK")







PUNCAK ABADI PARA DEWA
Perencanaan adalah hal yang dibutuhkan untuk memulai mencapai harapan, atau keinginan apapun. Pemikiran yang matang pun adalah kunci menggapai harapan dan keinginan. Semua harus dilakukan semaksimal mungkin, walaupun untuk hal kecil, apalagi harapan dan keinginan yang luar biasa besar bagi kehidupan.
April, bulan penuh makna bagi empat pemuda luar biasa. Mimpi, harapan, dan keinginan mereka untuk memulai pengalaman menggapai mimpi menjadi orang tertinggi di pulau jawa akan sedikit menjadi angan yang menyeruakkan bayangan nyata di depan mata.
Empat sosok pemuda yang mempunyai karakter, watak, perilaku, kebiasaan, perasaan, dan juga pola pikir yang berbeda-beda, namun mempunyai satu mimpi yang sama. Mereka punya satu titik tujuan, satu keinginan, satu harapan, satu dorongan untuk memuaskan dahaga besar dalam perjalanan nafas mereka. Puncak gunung semeru adalah mimpi mereka.
Shobirin, sosok pemuda kalem tapi tajam. Sosok yang terlihat sukses duluan, melebih teman-temannya yang lain, dia bekerja di Dinas Sosial Kabupaten, bisa dibilang PNS muda. sempat mengambil kuliah jurusan teknik informatika, tetapi dia memilih tidak melanjutkan,namun diluar dugaan, dia telah menyelesaikan studinya sebagai sarjana D3 jurusan PGPQ (Pendidikan Guru Pengajar Al-Qur’an). Tajam dalam segala hal, terlebih pemikiran, dia sosok orang yang kritis, tidak  “egois” tetapi juga “egois”. Tidak egois dalam arti sebenarnya, tetapi egois dalam hal yang positif, yaitu keinginannya harus bisa terwujud secara seksama dan dalam tempoe yang sesingkat-singkatnya, macam teks proklamasi. Dia bisa dibilang relawan, relawan dalam dunia sholawat. Sering kliteran untuk sekedar bercengkrama sembari berlatih dan melatih mendalami ilmu tentang alat musik yang digunakan sebagai pemanis dalam melantunkan sholawat. Jaket hitam berlogo majelis rasulullah, yang menandakan dia fanatik dengan sosok ulama yang mensyiarkan agama lewat lantunan indah sholawat, Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf, serta celana hitam polos tanpa model sedikitpun, macam milik bapaknya, yang secara tidak langung menandakan dia mempunyai pemikiran yang melebihi usia mudanya.
samsul, pemuda masa kini yang tidak jauh dengan kesan dan slogan pemuda zaman sekarang “trendy, funky, dan alay”. Jaket yang terlihat jumbo, celana pensil, serta kacamata hitam adalah identitasnya. Mendalami ilmu Bahasa Inggris dalam studinya di salah satu fakultas di kota paling barat provinsi Jawa Timur. Status cinta-cintaan yang berbau alay menghiasi beranda social medianya yang juga merupakan identitasnya sebagai salah satu pemuda masa kini.
Zainur, sekilas orang akan menilai sosok pemuda ini sebagai pemuda yang malas, jarang mandi, bau, kusam, apa adanya tetapi ada apanya. Namun dibalik sosok luarnya yang memang terlihat seperti itu, dia mempunyai kepedulian dan jiwa sosial yang luar biasa, baik itu kepada teman, sahabat, ataupun kepada orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Studi keagamaan merupakan hal yang dijalaninya kini, tetap dengan Pakaian model 80-an yang merupakan tren pemuda menurut versi pribadinya, dengan model jaket, celana komprang model lawasnya yang didapat dari kegiatan transaksinya di toko pakaian bekas import dari korea, serta mempunyai semboyan yang aneh menurut teman-teman lainnya, yaitu “apapun masalahnya, tidurlah solusinya”, namun dibalik semua itu, terpendam juga sifat pemimpin di dalam dirinya.
Wahyu, pemuda dengan nama lengkap Wahyu Albryanto, sosok yang mempunyai nama sedikit bernada eropa, tetapi bernuansa jawa, karena ada tambahan kata “ –to ” dalam kata ” bryan- ”. Bersifat humoris, tetapi punya kekurangan pada komunikasi. Dia sering bertanya apabila dijelaskan tentang apapun, entah bertanya karena tidak tahu atau memang tidak masuk dalam otaknya sama sekali penjelasan tersebut, sampai terkadang si pemberi penjelasan muring-muring  (marah-marah) karena kebiasaan bertanyanya tersebut.



Lantunan sholawat diiringi tek dung tek dung irama terbang menghiasi malam indah di Sugiharjo, tepatnya di kediaman salah satu dari keempat orang tersebut, yaitu rumah dari Sobirin. Mereka bertiga, tanpa kehadiran seorang sosok pemalas, Zainur.
Samsul mengawali perbincangan mereka pada malam itu.
“ apa kabar kamu sob?” tanya Samsul.
“bisa dilihat sendiri, sinar yang terpancar dari wajahku adalah tanda kondisiku saat ini” timpal Sobirin.
“ah.... gaya loe ndro... sok puitis”
“haha.. saya kabar baik sam, seperti kabarmu kah?”
“yes.. you’re right sob, gue sehat bingiits..” timpal samsul dengan gaya alaynya dan sedikit menampakkan gaya bidang study yang didalaminya.
“ Samsul- samsul, iya percaya kalau kamu itu anak bahasa inggris,  sampai ngobrol santai gini aja dipakai tuh bahasa bule.” Singgung Wahyu tentang gaya bahasa yang digunakan oleh samsul.
“hihi... iya deh sorry, eh.. iya deh maaf, hehehe. ” Jawab samsul sembari merunduk malu.
Tidak berselang lama, deru knalpot sepeda jadul dengan sosok penunggang yang berbusana sama dengan model sepeda motornya, datang mendekati mereka. Siapa dia?, tidak salah lagi, dia adalah Zainur.
assalamualaikum, bro. Salam zainur.
“wa’alaikuum salam warohmatulohi wabarokatuh, halo Zain”. paduan suara dadakan nan sumbang menyeruak dari mulut mereka bertiga.
“ sedang berbuat apa kalian ini, ono acara opo?”
“tidak ada apa-apa, hanya bercengkrama hal-hal ringan saja”, sahut sobirin dari pertanyaaan zainur.
“eh kawan, saya punya usulan dan rencana yang luar biasa berkesan untuk kehidupan kita”.
“rencana apa Zain, gaya loe sok serius..” Samsul pun menyahut.
“jadi gini, saya punya rencana pendakian ke gunung Semeru, adakah dari kalian berminat untuk berpetualang?”.
“Saya rasa....., Kita semua minat dengan usulanmu.”
“oke, saya merencanakan kita berangkat pada bulan mei, karena di bulan mei, bunga edelweis yang ada di sana sudah mulai pamer keelokannya, dan berhubung ini sudah masuk bulan april, saya harap persiapkan diri kalian, fisik serta mental kalian sebaik mungkin, dan untuk kebutuhan logistik serta tenda dal lain-lain, saya tugaskan ke masing-masing individu, dengan tanggung jawab sesuai yang saya tulis di kertas ini, SETUJU?” Penjelasan zainur sambil menyodorkan kertas putih berhias tulisan jeleknya, yang berisikan tugas masing-masing dari mereka.
“SETUJU......................” Teriak mereka bertiga.
Datangnya bulan mei ternyata tak selama dengan pemikiran mereka, bulan ini serasa cepat datangnya. Bukan karena cepat bergulirnya bulan april, atau cepat datangnya bulan mei, karena bulan kan sudah ada hari-harinya yang setiap tahun juga tidak lah berganti. Tetapi yang membuat semuanya terasa serba cepat adalah besarnya keinginan mereka dengan kondisi kesiapan mereka yang sudah maksimal untuk menatap keingian mereka menginjakkan kaki di tempat impian yang sudah mereka rencanakan sabulan yang lalu.
Di tempat yang sama saat mereka merencanakan semauanya, mereka berkumpul untuk cek persiapan dan kesiapan.
“Mei telah tiba bro.” Zainur memulai percakapan.
“iya, cepet banget, ngomong-ngomong bagaimana persiapan kalian semua? Tanya wahyu.
“ saya siap !”. sahut Samsul
“Saya juga sangat siap, tetapi ingat, sekedar saran dan pesan untuk kita semua, tujuan harus sesuai dengan keinginan kita, jangan sampai salah satu dari kita memikirkan dirinya sendiri dalam perjalanan nanti !. Sahut Sobirin pula.
“Oke saran yang sangat bagus, berarti kita sudah siap semua, sekarang kita pulang, tidur dan besok sekitar jam 12 malam kita kita kumpul di sini lagi dan persiapan untuk berangkat ke semeru”. Sahut Zainur untuk mengakhiri obrolan mereka saat itu.
Beberapa menit sebelum jarum jam berjalan menuju waktu 00.00 WIB, satu persatu dari mereka mulai menampakkan langkah semangat hati dan kaki-kaki mereka. Sementara kendaraan berupa mobil L300 bak terbuka sudah menunggu mereka sejak se jam lalu. Bukan hanya menunggu mereka, tetapi juga menunggu ibu-ibu yang akan berangkat ke pasar guna berjualan serta membeli kebutuhan jualannya yang akan mereka pasarkan dikeesokan harinya.
Tak lama kemudian mereka berempat sudah berkumpul dan siap-siap untuk nunut  ke terminal, untuk menunggu kedatangan bis menuju terminal Malang, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lumajang, Jawa Timur.
“Hendak pergi kemana mas-mas yang ganteng ini?” tanya salah satu dari beberapa ibu-ibu di atas mobil tersebut.
“kita mau ke Lumajang bu.” Jawab Sobirin, sementara yang lain juga menanggapi pertanyaan basa-basi dari ibu-ibu yang lain.
“ jauh sekali, mau dolan ke rumah siapa?”
“bukan mau dolan bu, tapi kita mau ke gunung semeru”.
“oh, gunung yang guede, dukur iku ta?, hati-hati lho mas, itu gunungnya masih aktif, sewaktu-waktu bisa mlbedos.”
nggih ibu, matur nuwun sarannya, sekalian mohon doanya supaya kami semua selamat sampai tujuan, dan selamat pula dalam perjalanan pulang nanti.”
Hooop...., wis ndang mudun le, wis tekan terminal,” tiba-tiba terdengar suara sopir.
“oh iya pak, kita turun.” Sahut wahyu.
“ini pak ongkosnya, sekedar buat beli rokok,” ucap samsul sembari mengeluarkan selembar uang 50.000.
wis mas duite sampean gowonen wae.”
“ oh gak usah bayar ini ceritanya, cie bapak sopir baik cie, baik bingiittsssss.” Gaya alay si Samsul muncul lagi.
style bicara samsul muncuk maneh.....” ejek Zainur.
ih, gue sih cuek kaleeee.” Sahut samsul sembari bibirnya manyun.
Itulah salah satu obrolan singkat dalam forum dadakan yang mereka buat dalam perjalanan singkat menuju terminal, dan tak lama mereka pun sampai di terminal. Sementara tak lama kemudian bus jurusan Malang datang menghampiri mereka.
“ayo siap-siap naik, busnya sudah datang.” Pinta sobirin ke teman-temannya.
Setelah mereka masuk dalam bus tersebut, hanya ada satu keinginan mereka, yaitu tidur sepuasnya, sebelum besuk menghadapi tantangan berat yang sudah pasti akan menghadang mereka, bukan tantangan kasat mata saja, tetapi juga tantangan yang tak kasat mata sama sekali.
Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi, mereka berempat sudah bersiap untuk menyewa kendaraan berupa jeep untuk menuju ke Ranupani, yang merupakan tempat pertama yang akan mereka injak di daerah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sebelum memulai semuanya dengan berjalan kaki.
“pak, biaya sewa jeep ke Ranupani berapa?” tanya sobirin ke salah satu pemilik jeep.
“600 ribu untuk sekali angkut mas.
“mahal sekali, podo wong jawa timure pak, mbuk yo di dunke sitik.” Tawar sobirin ke pemilik jeep tersebut.
“iya pak, turunkan sedikit lah, kia kan tetangga kota” sahut wahyu, sementara yang lain memasang wajah memelas ke arah pemilik jeep.
yowis lah, 550 ribu, gelem ora?.”
“hehe.... iya pak setuju”. Sahut sobirin.
Jeep segera meluncur menuju Ranupani, dalam perjalanan menuju ke Ranupani, mata mereka dimanjakan akan keagungan, kehebatan, serta kemurahan Tuhan, yang Dia gambarkan dengan goresan indah tinta-tintaNya di lembaran kanvas nan luas yang dapat dinikmati semua makhluk-makhluknya tanpa terkecuali. Do’a tak lepas mereka ucapkan sembari mengoreksi diri mereka, betapa luar biasanya campur tangan Tuhan dalam perjalanan mereka.
“kawan, ini pesan yang pertama dalam perjalanan kita. Kita harus tertunduk malu pada kelakuan kita setiap hari, betapa angkuhnya kita, betapa tidak pedulinya kita pada semua yang aka di sekeliling kita” ucap Zainur mengawali obrolan mereka di atas jeep.
“benar sekali, ini pelajaran luar biasa bagi kita, betapa kita kecil di alam ini.” timpal Wahyu.
“saya setuju dengan ucapan kalian, kebesaran Tuhan ada di depan kita, semua sangat patut kita syukuri, Subhanallah. “ sobirin menambahkan.
“tidak ada yang pantas kita ucapkan kali ini, kecuali doa dan pujian luar biasa bagi Tuhan semesta alam, semua tergambar indah di sekeliling kita” sahut Samsul menambahi ucapan Sobirin.
Satu jam kemudian, mereka telah sampai di Ranupani. Di sekeliling Ranupani terdapat danau kecil di sebelah kiri jalan, terdapat pula warung-warung kecil penjaja makanan, serta ada kuburan di sebelah warung tersebut.
“kawan, ini juga pesan bagi kita, lihat di depan sana!” ucap Zainur.
“ada apakah Zain?” tanya Sobirin
“terdapat tempat pemakaman di depan sana, itu menandakan betapa besar resiko yang ditanggung para pendaki. Jadi kita semua harus ingat, di samping kehidupan kita, ada kematian, dan itu tidaklah jauh jarak antara keduannya. Jadi saya mohon sekarang kita rapatkan barisan, mari kita berdoa bersama, agar perjalanan kita dilancarkan dan mendapat keselamatan baik berangkat ataupun pulang nanti. Berdoa mulai !.”
Merekapun membentuk sebuah lingkaran kecil untk memanjatkan doa berharap semua diberi kelancaran oleh-Nya.
“ingat kawan, ini adalah langkah pertama kita sebelum nanti melangkah beribu-ribu langkah, saya berharap pada kalian semua, jangan egois, semua masalah kita hadapi bersama, jangan sampai kita memikirkan diri sendiri, kita berangkat bersama, kita naik bersama, turun pun kita juga harus bersama.” Sobirin berujar pada teman-temannya.
“ingat kata-kata saya ini kawan, Langkah juang kaki tangan serta hati untuk mencapai petala teratasmu. Intinya adalah semua harus kita jadikan satu, karena untuk menuju puncaknya, kita tidak boleh hanya mengandalkan fisik kita, tapi hati kita juga tidak kalah penting!” ujar wahyu kepada teman-temannya.
Tempat pertama yang akan mereka tuju adalah Ranu Rumbolo. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang luasnya 15 ha, dengan ketinggian sekitar 2400 mdpl (meter di atas permukaan laut), untuk menuju kesana dibutukan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Ranupani. Dalam perjalanan mereka, Tuhan tak bosan-bosannya memberikan pelajaran bagi mereka, dengan menunjukkan kebesarannya. Jajaran pohon pinus, serta hijaunya rumput menunduk kepada kebesaranNya. Mereka seolah selalu berdoa dengan gerakan indah daun serta batang dan dahang-dahangnya mengikuti tiupan angin yang seolah pula membawa doa mereka menuju singgasana Tuhan. Kicau burung pun tak lepas dari kesan syukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya, dengan terjaganya keindahan alam di sekitarnya yang merupakan rumah bagi kawanan burung tersebut.
Tiga jam kemudian sampailah mereka di Ranu Kumbolo. Suhu udara yang dingin mulai mereka rasakan walau jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Rasa dingin itu muncul karena suhu tubuh mereka mulai turun karena berkurangnya aktifitas fisik mereka, yang sebelumnya berjalan tanpa henti selama 3 jam, dan berhenti pun hanya sekitar 2-3 menit setiap breaknya.
“waow..... indah bingits tempaatnya.” Ucapan pertama yang keluar dari mulut Samsul, yang sebelumya hanya terdiam lesu karena lamanya perjalanan.
“Wahyu, inilah surga Gunung Semeru.” Ucap Sobirin kepada Wahyu.
“ oh, ini kah yang dinamakan surga Gunung Semeru sob?”
“iya…, kan tadi saya sudah bilang.”
“masak sih, ini dinamakan surga Gunung Semeru ?”
“iya Wahyu, tempat ini disebut jua surga Gunung Semeru.”
“ah masak? Yang benar? Kenapa kok bisa gitu?”
Ggggrrrr……capek ngomong sama kamu, tanya melulu.” Gerutu Sobirin karena kebiasaan Wahyu yang mulai muncul.
“kita langsung melanjutkan saja ke kalimati, supaya tidak terlalu sore nantinya, setelah sampai di sana, kita istirahat total.” Ujar zainur yang tiba-tiba berbicara setelah sekian lama berdiam.
Tanpa ada pertanyaan yang hanya basa-basi dari teman-teman yang lain, mereka langsung melanjutkan perjalanan meuju Kalimati. Sekali lagi, Tuhan memberikan kemurahannya. Di balik Ranu kumbolo, yang sebelumnya melewati bukit yang dinamakan bukit cinta karena bentuknya yang mirip dengan lambang cinta, mereka disuguhi hembusan sejuk tatanan alam, berupa cerahnya gugusan warna bunga edelweis di sekeliling mereka. Tepat seperti yang dibicarakan oleh Zainur, bahwa seminya bunga edelweis ada di bulan mei, dan mereka beruntung sekali karena mereka diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan luar biasa ini di bulan yang bertepatan dengan tumbuhnya keindahan dari tanah subur yang mereka injak kini, tanah yang merupakan titipan dari Sang Kuasa yang patut mereka jaga keutuhan serta keindahannya. Ini juga merupakan pelajaran yang entah ke berapa kali untuk mereka, betapa kecilnya mereka di tengah luasnya padang rumput, berhias gumpalan bunga yang nampak indah bila dilihat dari awal mereka sampai di bukit cinta. Betapa tidak berdayanya mereka untuk setidaknya menikmati semua keindahan itu karena keterbatasan kemampuan fisik dan juga karena memang keadaannya mereka benar-benar kecil di tengah luasnya dunia yang baru bagian seper sekian ratus ribu kilo meter bahkan jutaan kilo meter dari keseluruhan luasnya dunia.
“kita sekarang ada di mana bro?” Tanya Samsul yang memecah keheningan mereka.
“ini dinamakan oro-oro ombo, artinya adalah lapangan yang luas, oro-oro itu lapangan, sedangkan ombo itu luas atau besar.” Sobirin menjelaskan dengan baik dan benar.
“luar biasa alam yang diberikan Tuhan kepada kita.” Gumam Samsul.
“tumben kata-kata alay-mu gak keluar sul, haha….” sindir Wahyu.
“ku terpikat pada kehebatan Tuhan, yang menciptakan secuil surga melalui alam semesta ini untuk makhluk-makhluknya tanpa pilih kasih”
“tumben sekali samsul ini, puitis. Ternyata dia bisa berubah sifatnya karena tempat ini, atau mungkin kesambet, haha….” Zainur menambahi sindiran wahyu.
“boleh gak memetik bunga indah ini zain?” Tanya Wahyu.
“heh…. Jangan ngawur, jangan sembarangan asal comot aja.”
“kenapa?”
“kalau nanti kita turun dan kedapatan membawa bunga dari sini, bukan tidak mungkin kalian disuruh untuk mengembalikan bunga ini di tempat semula.”
“setega, sekejam, sekeji itu kah mereka pada kita, oh… ku tak sanggup membayangkannya… OMG Hellow…..” sifat asli Samsul muncul kembali.
“tolong kalian ingat-ingat dan resapi pesanku ini!, kita tidak boleh mengambil apapun kecuali foto, tidak boleh meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan tidak boleh membunuh apapun kecuali waktu, ingat itu !” ketegasan Zainur muncul kembali, sembari menatap tajam teman-temannya.
“terimakasih zain, keberadaanmu di tengah-tengah kami sangat bermanfaat bagi perjalanan kita semua, oke..!, lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita kawan, perjalanan jauh dan berat masih menunggu kita di depan” sambung Sobirin.
Satu per satu langkah mereka hanya meninggalkan jejak kaki, satu pesan dari Zainur yang sudah dilaksanakan mereka. Sedikit demi sedikit bayangan mereka lenyap dari pandangan puncak tanjakan cinta dan luasnya padang safana oro-oro ombo. Sementara luasnya hutan cemara, tingginya pepohonan yang sekilas sama rata menyimpan pesan kepada mereka, mereka harus berjalan dengan jarak yang dekat saaat melewati hutan ini, karena apabila ada salah satu yang berjalan dengan jarak yang jauh, bukan tidak mungkin akan tersesat. Keadaan sekitar cukup sejuk karena rindangnya pepohonan cemara. Walau sebenarnya jam sudah menunjukkan cerahnya mata dunia yang mulai memuncak. Tidak ada hal yang cukup berkesan dari tempat ini, kecuali pesan yang mereka tangkap sendiri dari lasnya hutan cemara yang mereka lewati kali ini. Tempat ini dinamakkan cemoro kandang.
“kawan, kita akan melewati luasnya hutan cemara ini, dan kira-kira sekitar 1 jam lagi kita akan sampai di kaki gunung semeru, yaitu kalimati.” Zainur menginformasikan kepada teman-temannya.
11.30 WIB, molor setengah jam dari target mereka yang mengatakan akan sampai di kali mati pada pukul 11.00 WIB. Di sini langkah kaki mereka terhenti. Langkah terakhir mereka melewati cemoro kandang, dan langkah pertama mereka menginjak kali mati. Kemegahan serta keagungan Gunung Semeru sangat jelas terlihat dari kaki gunung ini. Bentangan pasir yang berdiri gagah menancap di bumi, hiasan hijau pepohonan yang mengeliling sebatas lututnya, menampakkan berbahayanya gunung ini, betapa susahnya pepohonan itu hanya untuk sekedar hidup diatas lutut sang gunung.
“kita aka ngecamp di sini, saya mohon Sobirin dan Samsul untuk mendirikan tenda dan menyiapkan makanan, sementara Wahyu ikut saya untuk mengambil air, karena persediaan air kita yang sudah sangat memprihatinkan.” Perintah Zainur kepada teman-temannya.
“oke!” sahut Samsul dan Sobirin.
“kita mengambil air di mana Zain?, ada kah sumber air di tempat ini?, sementara kita hanya bengong saja saat kita melewati ribuah liter air di ranu kumbolo.” Sahut wahyu.
“sudah Wahyu, kamu ikuti saya saja, bawa semua botol kosong yang ada!”
“oke, …”
Zainur dan Wahyu mulai berjalan kembali untuk mengambil air sebagai persediaan mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sementara Samsul dan Sobirin sibuk mendirikan tenda dan menyiapkan makanan untuk mereka semua.
kok adoh tenan tempat airnya.” Gumam wahyu.
“hihi…” tawa kecil Zainur menyadari Wahyu ngersulo dengan keadaan.
“kenapa kamu ketawa zain?”
“sudah gak usah ngersulo sebentar lagi kok, kita hanya butuh 30 menit untuk mengambil dan kembali ke Kalimati.
Sesampainya di tempat pengambilan air, pelajaran luar biasa mereka petik kembali. Betapa susahnya hidup di tengah hutan, karena semuanya serba mencari dan membuat. Tidak ada yang instan. Bahkan untuk mengambil air pun butuh kesabaran, karena air yang menetes dari akan pohon tak secepat yang mereka kira.
Sementara di Kalimati, Samsul dan Shobirin sedang memasak, timbul obrolan yang menggelitik hati  yang mendorong keingin tahuan mereka tentang gunung ini.
“Sob, pernah dengar kah kamu tentang cerita Gunung Semeru?” Tanya samsul kepada Sobirin.
“saya hanya mengerti kalau gunung yang ada di depan kita ini adalah gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa, dengan nama puncaknya adalah mahameru dan kawahnya namanya Jonggring Saloko.”
“hanya itu?”
“iya.. hanya sebatas itu, tak lebih.”
Whooy….sudah siap belum makannya? Laper nih..” teriak wahyu dari kejauhan, yang memaksa mengakhiri obrolan Sobirin dan Samsul.
“Siap… sumonggo kakang prabu, daharanipun sampun siap!” sahut samsul dengan gaya dan mimik wajah serta gaya tubuh selayak pembantu bangsawan.
Makanan yang telah tersedia dilahap habis oleh mereka semua, sementara Zainur sedikit termenung dengan keadaan sejuk dan damainya kalimati.
“kamu kenapa Zain, kok nampak termenung seperti itu, sedang memikirkan apakah kamu?” Tanya Sobirin mengakhiri lamunan Zainur.
“oh Sob, kaget saya, ini saya hanya termenung memikirkan keadaan alam di sini, walaupun semuanya terasa indah, tetapi di balik keindahan ini semua, alam dari gunung ini menyimpan misteri ataupun mitos dan sesuatu yang berbahaya bagi keselamatan kita”.
“apakah itu?” Tanya Wahyu yang ikut nimbrung bersamaan dengan Samsul yang ikut gabung dengan mereka semua.
“jadi begini, ada mitos yang mengatakan bahwa gunung semeru ini seolah dipangku oleh dewa yang sangat besar, pernah ada yang mengatakan bahwa ada orang yang seolah melihat pangkuan dewa terhadap gunung ini, sementara puncaknya merupakan tempat turunnya para dewa, dan dianggap tempat yang cukup sakral bagi pengikut ajaran dewa. Dari hal inilah ada sebutan bahwa puncak gunung semeru, yang biasa disebut mahameru dinamakan puncak abadi para dewa.”
“terus yang kamu bilang menyimpan bahaya tadi seperti apa penjelasannya?” Tanya Sobirin.
“berbahaya karena gunung ini masih sangat aktif, sehingga sewaktu-waktu bisa saja gunung ini meletus, sementara jalur pendakian menuju puncakya juga sangat berbahaya, karena jalurnya yang berpasir dan tidak stabil strukturnya. Sering pula terjadi, bongkahan batu yang jatuh menggelinding karena keadaan alam, dan juga karena kesalahan para pendaki yang tidak mengecek keadaan batu saat melakukan pendakian, kemungkinan juga batu tersebut dijadikan pijakan atau pegangan, dan ternyata batu tersebut tidak menempel dengan baik dan akhirnya terlepas.”
“kewaspadaan akan keadaan di sekitar kita serta tetap mengingat Tuhan adalah cara yang paling realistis bagi kita dalam melewati perjalanan kita dari awal sampai nanti kita di puncak kawan.” Sambung Sobirin.
“iya, hanya itu yang bisa kita lakukan.” timpal Wahyu.
“oke kawan, kita akhiri dulu obrolan kita kali ini. Dengan waktu yang sesingkat ini, kita maksimalkan dengan istirahat, untuk persiapan kita naik ke puncak gunung semeru, sementara saat kita naik nanti, semua barang kita tinggal di sini, kita hanya membawa barang yang sekiranya kita perlukan, seperti air, makanan kecil, senter, dan jangan sampai kita tidak memakai jaket!”
Suhu udara tengah malam di Kalimati terasa menusuk tulang, dari termometer yang dibawa, menunjukkan suhu udara di kalimati menunjukkan suhu -1 derajat celsius. Suhu yang ekstrim bagi orang-orang yang terbiasa hidup di iklim tropis. Sementara mereka berempat sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak.
“siapkah kalian menghadapi tantangan alam ini?” tanya Zainur tentang kesiapan teman-temannya.
“belum apa-apa kita sudah dihadapkan dengan suhu semacam ini....esttt huh...” gerutu Wahyu sembari menggosok-gosokkan tangannnya yang bermaksud mengurangi rasa dingin yang menerpa tubuhnya.
“huh....kita gak perlu rokok untuk sekedar meniupkan asap dari mulut kita, haha.” Canda Samsul untuk juga sekedar sedikit mengurangi rasa dingin yang mendera.
“sudah siap semuanya?” tanya Sobirin.
“SIAP…..” Jawab mereka serentak.
“oke kita berangkat. Pastikan tidak ada barang yang kita perlukan tertinggal di tenda.”
“terlebih kamera, jangan sampai ketinggalan..hihi. bisa gaswat bin berabe kalau sampai tertinggal.” Tambah samsul.
Tak lama kemudian mereka mulai melangkahkan kaki mereka, dan menanamkan keinginan luar biasa untuk berdiri di puncak Gunung Semeru. Satu persatu langkah pelan mereka menatap kepastian untuk tetap melangkah menuju puncak harapan yang mereka tanamkan sebelum mereka berangkat ke semeru. Yah, tepatnya satu bulan yang lalu di tempat tongkrongan mereka, di rumah Sobirin. Di tempat itulah tercetus keinginan dan harapan itu yang pada aakhirnya benar-benar membawa mereka di tempat ini. Tempat yang tak mungkin bisa mereka lupakan seumjr hidup mereka, tempat yang menyimpan misteri yang belum sama sekali mereka ketahui.
Jam menunjukkan perjalanan menuju puncak sudah berjalan selama 3 jam, sementara puuncak masih terasa sangat jauh. Hanya terlihat sorot lampu dari para pendaki yang lain, dan juga terlihat indahnya cahaya bulan yang bertepatan dengan datangnya purnama menambah kesan yang beda dalam perjalanan hidup mereka.  Jiwa sosial, kebersamaan, keramahan dan yang lain adalah pelajaran yang dapat langsung mereka petik dan rasakan. Dalam perjalanan tersebut tidak jarang, bahkan hampir semuanya seolah mengenal satu sama lain, mereka menyapa, menegur, bahkan juga memberi semangat lebih bagi mereka saat berpapasan dengan para pendaki lain. Tak jarang pula saling berbagi walaupun tidak kenal  sama sekali, mungkin ada cahaya rasa yang keluar dari masing-masing hati mereka, bahwa barangmu adalah barangku, barangku adalah barangmu juga. Seolah semua barang mereka juga untuk mereka semua, tanpa memandang siapa mereka, dari mana mereka.
6 Jam telah berlalu, dan puncak yang mereka idam-idamkan, tempat yang menjadi harapan mereka berdiri telah berada sedikit di atas mereka, hanya beberapa langkah lagi.
“KAWAN...... Sebentar lagi kita mencapai keinginan kita untuk menjadi orang tertinggi di pulau jawa.. SEMANGATTTTT!!!” Teriak Zainur yang menjadi pemimpin di rombongan mereka.
“SEMANGAT...” Teriak teman-teman yang lain dengan sisa tenaga yang mereka punya.
Sentuhan tangan Mahameru akhirnya dapat mereka rasakan. Setelah sekian lama mereka berjuang dengan kerasnya alam, bergelut dengan waktu, bergumul dengan dinginnya suhu di sana. Haru, tangis, senyum, senang, bahagia, capek, letih, dan semua yang mereka rasakan seolah menjadi bumbu penyedap dalam masakan langkah kaki perjalanan mereka menuju tempat yang mereka harapkan sejak awal.
“kita berhasil kawan.. kita sampai di  M A H A M E R U U U U U U  U U U U U.” Teriak Zainur sembari memeluk teman-teman yang lain, yang terlihat terharu dengan keberhasilan mereka.
“Puncak abadi para dewa telah kita pijak kawan.Sambung Sobirin.
“impian menjadi orang tertinggi di pulau jawa telah menjadi titel kita kali ini kawan. sahut samsul.
“yang pasti perjuangan yang telah Zainur ucapkan diawal telah membuat kita berdiri disini, Langkah juang kaki tangan serta jiwa tuk capai petala teratas Mahameru.” Wahyu menambahi kata yang terucap kdari kawan-kawannya.
Tempat yang seolah dekat dengan langit, dekat dengan sang Maha Kuasa, menjadikan kesadaran hati mereka akan kuasa Sang Ilahi. Keindahan alam yang terlihat dari puncak sangat luar biasa, menjadikan mereka sadar akan kecilnya mereka, akan tidak berdayanya mereka, akan lemahnya mereka. Seolah pula mereka berada diatas awan yang mengangkat mereka terbang menuju singgasana turunnya para dewa.
“PUCAK ABADI PARA DEWA............ KAMI TELAH DATANG......” Teriak mereka bersama-sama.

Pada akhirnya, keinginan yang kita tanam dan kita tancapkan pada hati dan pikiran kita akan kita capai dalam waktu yang sama sekali tidak kita ketahui. Hanya jalan Tuhan yang menuntun kita pada suatu hal yang menjadi angan, cita-cita, asa, harapan, serta keinginan kita. Makhluk hanya bisa berbangga dengan karya Tuhan, namun jangan juga hanya berbangga, tahu dan sadar akan kuasa Tuhan dalam hidup kita lebih terasa bermakna, dari pada kita hanya bisa berbangga dengan apa yang ada tanpa meresapi ada apa dengan apa yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar