PUNCAK ABADI PARA DEWA
Perencanaan adalah hal yang dibutuhkan untuk memulai mencapai harapan,
atau keinginan apapun. Pemikiran yang matang pun adalah kunci menggapai harapan
dan keinginan. Semua harus dilakukan semaksimal mungkin, walaupun untuk hal kecil,
apalagi harapan dan keinginan yang luar biasa besar bagi kehidupan.
April, bulan penuh makna bagi empat pemuda luar biasa. Mimpi,
harapan, dan keinginan mereka untuk memulai pengalaman menggapai mimpi menjadi
orang tertinggi di pulau jawa akan sedikit menjadi angan yang menyeruakkan
bayangan nyata di depan mata.
Empat sosok pemuda yang mempunyai karakter, watak, perilaku,
kebiasaan, perasaan, dan juga pola pikir yang berbeda-beda, namun mempunyai
satu mimpi yang sama. Mereka punya satu titik tujuan, satu keinginan, satu
harapan, satu dorongan untuk memuaskan dahaga besar dalam perjalanan nafas
mereka. Puncak gunung semeru adalah mimpi mereka.
Shobirin, sosok pemuda kalem tapi
tajam. Sosok yang terlihat sukses duluan, melebih teman-temannya yang
lain, dia bekerja di Dinas Sosial Kabupaten, bisa dibilang PNS muda. sempat
mengambil kuliah jurusan teknik informatika, tetapi dia memilih tidak
melanjutkan,namun diluar dugaan, dia telah menyelesaikan studinya sebagai
sarjana D3 jurusan PGPQ (Pendidikan Guru Pengajar Al-Qur’an). Tajam dalam
segala hal, terlebih pemikiran, dia sosok orang yang kritis, tidak “egois” tetapi juga “egois”. Tidak egois
dalam arti sebenarnya, tetapi egois dalam hal yang positif, yaitu keinginannya
harus bisa terwujud “ secara seksama dan dalam tempoe yang
sesingkat-singkatnya”, macam teks proklamasi. Dia bisa dibilang relawan,
relawan dalam dunia sholawat. Sering kliteran untuk sekedar bercengkrama
sembari berlatih dan melatih mendalami ilmu tentang alat musik yang digunakan
sebagai pemanis dalam melantunkan sholawat. Jaket hitam berlogo majelis
rasulullah, yang menandakan dia fanatik dengan sosok ulama yang mensyiarkan
agama lewat lantunan indah sholawat, Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf, serta
celana hitam polos tanpa model sedikitpun, macam milik bapaknya, yang secara
tidak langung menandakan dia mempunyai pemikiran yang melebihi usia mudanya.
samsul, pemuda masa kini yang tidak
jauh dengan kesan dan slogan pemuda zaman sekarang “trendy, funky, dan alay”.
Jaket yang terlihat jumbo, celana pensil, serta kacamata hitam adalah
identitasnya. Mendalami ilmu Bahasa Inggris dalam studinya di salah satu fakultas
di kota paling barat provinsi Jawa Timur. Status cinta-cintaan yang berbau alay
menghiasi beranda social medianya yang juga merupakan identitasnya sebagai
salah satu pemuda masa kini.
Zainur, sekilas orang akan menilai
sosok pemuda ini sebagai pemuda yang malas, jarang mandi, bau, kusam, apa
adanya tetapi ada apanya. Namun dibalik sosok luarnya yang memang terlihat
seperti itu, dia mempunyai kepedulian dan jiwa sosial yang luar biasa, baik itu
kepada teman, sahabat, ataupun kepada orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Studi keagamaan merupakan hal yang dijalaninya
kini, tetap dengan Pakaian model 80-an
yang merupakan
tren pemuda menurut versi pribadinya, dengan model jaket, celana komprang model
lawasnya yang didapat dari kegiatan transaksinya di toko
pakaian bekas import dari korea, serta mempunyai semboyan yang aneh menurut teman-teman
lainnya, yaitu “apapun masalahnya, tidurlah solusinya”, namun dibalik semua
itu, terpendam juga sifat pemimpin di dalam dirinya.
Wahyu, pemuda dengan nama lengkap Wahyu Albryanto, sosok
yang mempunyai nama sedikit bernada eropa, tetapi bernuansa jawa, karena ada
tambahan kata “ –to ” dalam kata ” bryan- ”. Bersifat humoris, tetapi punya
kekurangan pada komunikasi. Dia sering bertanya apabila dijelaskan tentang
apapun, entah bertanya karena tidak tahu atau memang tidak masuk dalam otaknya sama
sekali penjelasan tersebut, sampai terkadang si pemberi penjelasan muring-muring
(marah-marah) karena kebiasaan
bertanyanya tersebut.
Lantunan sholawat diiringi tek dung tek dung irama
terbang menghiasi malam indah di Sugiharjo, tepatnya di kediaman salah satu
dari keempat orang tersebut, yaitu rumah dari Sobirin. Mereka bertiga, tanpa kehadiran seorang sosok pemalas, Zainur.
Samsul mengawali perbincangan mereka pada malam itu.
“ apa kabar kamu sob?” tanya Samsul.
“bisa dilihat sendiri, sinar yang terpancar
dari wajahku adalah tanda kondisiku saat ini” timpal Sobirin.
“ah.... gaya loe ndro... sok puitis”
“haha.. saya kabar baik sam, seperti kabarmu
kah?”
“yes.. you’re right sob, gue sehat bingiits..”
timpal samsul dengan gaya alaynya dan sedikit menampakkan gaya bidang
study yang didalaminya.
“ Samsul- samsul, iya percaya kalau kamu itu
anak bahasa inggris, sampai ngobrol santai gini aja dipakai tuh bahasa bule.” Singgung Wahyu tentang
gaya bahasa yang digunakan oleh samsul.
“hihi... iya deh sorry, eh.. iya deh
maaf, hehehe. ” Jawab samsul sembari merunduk malu.
Tidak berselang lama, deru knalpot sepeda
jadul dengan sosok penunggang yang berbusana sama dengan model sepeda motornya,
datang mendekati mereka. Siapa dia?, tidak salah lagi, dia adalah Zainur.
“assalamualaikum, bro”. Salam zainur.
“wa’alaikuum salam warohmatulohi wabarokatuh,
halo Zain”. paduan suara dadakan nan sumbang menyeruak dari mulut mereka bertiga.
“ sedang berbuat apa kalian ini, ono acara
opo?”
“tidak ada apa-apa, hanya bercengkrama hal-hal
ringan saja”, sahut sobirin dari pertanyaaan zainur.
“eh kawan, saya punya usulan dan rencana yang luar biasa berkesan untuk kehidupan kita”.
“rencana apa Zain, gaya loe sok serius..” Samsul pun menyahut.
“jadi gini, saya punya rencana pendakian ke
gunung Semeru, adakah dari kalian berminat untuk berpetualang?”.
“Saya rasa....., Kita semua minat dengan usulanmu.”
“oke, saya merencanakan kita berangkat pada
bulan mei, karena di bulan mei, bunga edelweis yang ada di sana sudah mulai
pamer keelokannya, dan berhubung ini sudah masuk bulan april, saya harap
persiapkan diri kalian, fisik serta mental kalian sebaik mungkin, dan untuk
kebutuhan logistik serta tenda dal lain-lain, saya tugaskan ke masing-masing
individu, dengan tanggung jawab sesuai yang saya tulis di kertas ini, SETUJU?” Penjelasan zainur sambil menyodorkan kertas putih berhias tulisan
jeleknya, yang berisikan tugas masing-masing dari mereka.
“SETUJU......................” Teriak mereka
bertiga.
Datangnya bulan mei ternyata tak selama dengan
pemikiran mereka, bulan ini serasa cepat datangnya. Bukan karena cepat
bergulirnya bulan april, atau cepat datangnya bulan mei, karena bulan kan sudah
ada hari-harinya yang setiap tahun juga tidak lah berganti. Tetapi yang membuat
semuanya terasa serba cepat adalah besarnya keinginan mereka dengan kondisi
kesiapan mereka yang sudah maksimal untuk menatap keingian mereka menginjakkan
kaki di tempat impian yang sudah mereka rencanakan sabulan yang lalu.
Di tempat yang sama saat mereka merencanakan
semauanya, mereka berkumpul untuk cek persiapan dan kesiapan.
“Mei telah tiba bro.” Zainur memulai
percakapan.
“iya, cepet banget, ngomong-ngomong bagaimana
persiapan kalian semua? Tanya wahyu.
“ saya siap !”. sahut Samsul
“Saya juga sangat siap, tetapi ingat, sekedar
saran dan pesan untuk kita semua, tujuan harus sesuai dengan keinginan kita,
jangan sampai salah satu dari kita memikirkan dirinya sendiri dalam perjalanan
nanti !. Sahut Sobirin pula.
“Oke saran yang sangat bagus, berarti kita
sudah siap semua, sekarang kita pulang, tidur dan besok sekitar jam 12 malam
kita kita kumpul di sini lagi dan persiapan untuk berangkat ke semeru”. Sahut
Zainur untuk mengakhiri obrolan mereka saat itu.
Beberapa menit sebelum jarum jam berjalan
menuju waktu 00.00 WIB, satu persatu dari mereka mulai menampakkan langkah
semangat hati dan kaki-kaki mereka. Sementara kendaraan berupa mobil L300 bak
terbuka sudah menunggu mereka sejak se jam lalu. Bukan hanya menunggu mereka, tetapi
juga menunggu ibu-ibu yang akan berangkat ke pasar guna berjualan serta membeli
kebutuhan jualannya yang akan mereka pasarkan dikeesokan harinya.
Tak lama kemudian mereka berempat sudah
berkumpul dan siap-siap untuk nunut ke terminal, untuk menunggu kedatangan bis
menuju terminal Malang, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lumajang, Jawa
Timur.
“Hendak pergi kemana mas-mas yang ganteng
ini?” tanya salah satu dari beberapa ibu-ibu di atas mobil tersebut.
“kita mau ke Lumajang bu.” Jawab Sobirin, sementara yang
lain juga menanggapi pertanyaan basa-basi dari ibu-ibu yang lain.
“ jauh sekali, mau dolan ke rumah
siapa?”
“bukan mau dolan bu, tapi kita mau ke
gunung semeru”.
“oh, gunung yang guede, dukur iku ta?,
hati-hati lho mas, itu gunungnya masih aktif, sewaktu-waktu bisa mlbedos.”
“nggih ibu, matur nuwun sarannya,
sekalian mohon doanya supaya kami semua selamat sampai tujuan, dan selamat pula
dalam perjalanan pulang nanti.”
“Hooop...., wis ndang mudun le, wis tekan
terminal,” tiba-tiba terdengar suara sopir.
“oh iya pak, kita turun.” Sahut wahyu.
“ini pak ongkosnya, sekedar buat beli rokok,”
ucap samsul sembari mengeluarkan selembar uang 50.000.
“wis mas duite sampean gowonen wae.”
“ oh gak usah bayar ini ceritanya, cie
bapak sopir baik cie, baik bingiittsssss.” Gaya alay si Samsul muncul
lagi.
“style bicara samsul muncuk maneh.....”
ejek Zainur.
“ih, gue sih cuek kaleeee.” Sahut
samsul sembari bibirnya manyun.
Itulah salah satu obrolan singkat dalam forum
dadakan yang mereka buat dalam perjalanan singkat menuju terminal, dan tak lama mereka pun sampai di terminal. Sementara tak lama kemudian
bus jurusan Malang datang menghampiri mereka.
“ayo siap-siap naik, busnya sudah datang.” Pinta
sobirin ke teman-temannya.
Setelah mereka masuk dalam bus tersebut, hanya
ada satu keinginan mereka, yaitu tidur sepuasnya, sebelum besuk menghadapi
tantangan berat yang sudah pasti akan menghadang mereka, bukan tantangan kasat
mata saja, tetapi juga tantangan yang tak kasat mata sama sekali.
Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi, mereka
berempat sudah bersiap untuk menyewa kendaraan berupa jeep untuk menuju ke
Ranupani, yang merupakan tempat pertama yang akan mereka injak di daerah Taman
Nasional Bromo Tengger Semeru, sebelum memulai semuanya dengan berjalan kaki.
“pak, biaya sewa jeep ke Ranupani berapa?”
tanya sobirin ke salah satu pemilik jeep.
“600 ribu untuk sekali angkut mas.”
“mahal sekali, podo wong jawa timure pak,
mbuk yo di dunke sitik.” Tawar sobirin ke pemilik jeep tersebut.
“iya pak, turunkan sedikit lah, kia kan
tetangga kota” sahut wahyu, sementara yang lain memasang wajah memelas ke arah
pemilik jeep.
“yowis lah, 550 ribu, gelem ora?.”
“hehe.... iya pak setuju”. Sahut sobirin.
Jeep segera meluncur menuju Ranupani, dalam perjalanan menuju ke Ranupani, mata mereka dimanjakan akan keagungan, kehebatan, serta kemurahan Tuhan, yang
Dia gambarkan dengan goresan indah tinta-tintaNya di lembaran kanvas nan luas
yang dapat dinikmati semua makhluk-makhluknya tanpa terkecuali. Do’a tak lepas
mereka ucapkan sembari mengoreksi diri mereka, betapa luar biasanya campur
tangan Tuhan dalam perjalanan mereka.
“kawan, ini pesan yang pertama dalam
perjalanan kita. Kita harus tertunduk malu pada kelakuan kita setiap hari,
betapa angkuhnya kita, betapa tidak pedulinya kita pada semua yang aka di
sekeliling kita” ucap Zainur mengawali obrolan mereka di atas jeep.
“benar sekali, ini pelajaran luar biasa bagi
kita, betapa kita kecil di alam ini.” timpal Wahyu.
“saya setuju dengan ucapan kalian, kebesaran
Tuhan ada di depan kita, semua sangat patut kita syukuri, Subhanallah.
“ sobirin menambahkan.
“tidak ada yang pantas kita ucapkan kali ini,
kecuali doa dan pujian luar biasa bagi Tuhan semesta alam, semua tergambar
indah di sekeliling kita” sahut Samsul menambahi ucapan Sobirin.
Satu jam kemudian, mereka telah sampai di Ranupani. Di sekeliling Ranupani terdapat danau kecil di sebelah kiri
jalan, terdapat pula warung-warung kecil penjaja makanan, serta ada kuburan di
sebelah warung tersebut.
“kawan, ini juga pesan bagi kita, lihat di
depan sana!” ucap Zainur.
“ada apakah Zain?” tanya Sobirin
“terdapat tempat pemakaman di depan sana, itu
menandakan betapa besar resiko yang ditanggung para pendaki. Jadi kita semua harus ingat, di samping kehidupan kita, ada kematian, dan
itu tidaklah jauh jarak antara keduannya. Jadi saya mohon sekarang kita
rapatkan barisan, mari kita berdoa bersama, agar
perjalanan kita dilancarkan dan mendapat keselamatan baik berangkat ataupun
pulang nanti. Berdo’a mulai !.”
Merekapun membentuk sebuah lingkaran kecil
untk memanjatkan doa berharap semua diberi kelancaran oleh-Nya.
“ingat kawan, ini adalah langkah pertama kita
sebelum nanti melangkah beribu-ribu langkah, saya berharap pada kalian semua,
jangan egois, semua masalah kita hadapi bersama, jangan sampai kita memikirkan
diri sendiri, kita berangkat bersama, kita naik bersama, turun pun kita juga
harus bersama.” Sobirin berujar pada teman-temannya.
“ingat kata-kata saya ini kawan, Langkah juang
kaki tangan serta hati untuk mencapai petala teratasmu. Intinya adalah semua
harus kita jadikan satu, karena untuk menuju puncaknya, kita tidak boleh hanya
mengandalkan fisik kita, tapi hati kita juga tidak kalah penting!” ujar wahyu
kepada teman-temannya.
Tempat pertama yang akan mereka tuju adalah
Ranu Rumbolo. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang luasnya 15 ha, dengan
ketinggian sekitar 2400 mdpl (meter di atas permukaan laut), untuk menuju
kesana dibutukan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Ranupani. Dalam perjalanan
mereka, Tuhan tak bosan-bosannya memberikan pelajaran bagi mereka, dengan
menunjukkan kebesarannya. Jajaran pohon pinus, serta hijaunya rumput menunduk
kepada kebesaranNya. Mereka seolah selalu berdoa dengan gerakan indah daun
serta batang dan dahang-dahangnya mengikuti tiupan angin yang seolah pula
membawa doa mereka menuju singgasana Tuhan. Kicau burung pun tak lepas dari
kesan syukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya, dengan terjaganya
keindahan alam di sekitarnya yang merupakan rumah bagi kawanan burung tersebut.
Tiga jam kemudian sampailah mereka di Ranu Kumbolo. Suhu udara yang dingin mulai mereka rasakan walau jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Rasa dingin itu
muncul karena suhu tubuh mereka mulai turun karena berkurangnya aktifitas fisik
mereka, yang sebelumnya berjalan tanpa henti selama 3 jam, dan berhenti pun
hanya sekitar 2-3 menit setiap breaknya.
“waow..... indah bingits tempaatnya.”
Ucapan pertama yang keluar dari mulut Samsul, yang sebelumya hanya terdiam lesu
karena lamanya perjalanan.
“Wahyu, inilah surga Gunung Semeru.” Ucap Sobirin kepada Wahyu.
“ oh, ini kah yang dinamakan surga Gunung Semeru sob?”
“iya…, kan tadi saya sudah bilang.”
“masak sih, ini dinamakan surga Gunung Semeru ?”
“iya Wahyu, tempat ini disebut jua surga Gunung Semeru.”
“ah masak? Yang benar? Kenapa kok bisa gitu?”
“Ggggrrrr……capek ngomong sama kamu, tanya melulu.” Gerutu
Sobirin karena kebiasaan Wahyu yang mulai muncul.
“kita langsung melanjutkan saja ke kalimati, supaya
tidak terlalu sore nantinya, setelah sampai di sana, kita istirahat total.”
Ujar zainur yang tiba-tiba berbicara setelah sekian lama berdiam.
Tanpa ada pertanyaan yang hanya basa-basi dari
teman-teman yang lain, mereka langsung melanjutkan perjalanan meuju Kalimati.
Sekali lagi, Tuhan memberikan kemurahannya. Di balik Ranu kumbolo, yang
sebelumnya melewati bukit yang dinamakan bukit cinta karena bentuknya yang mirip
dengan lambang cinta, mereka disuguhi hembusan sejuk tatanan alam, berupa
cerahnya gugusan warna bunga edelweis di sekeliling mereka. Tepat seperti yang
dibicarakan oleh Zainur, bahwa seminya bunga edelweis ada di bulan mei, dan
mereka beruntung sekali karena mereka diberi kesempatan untuk melakukan
perjalanan luar biasa ini di bulan yang bertepatan dengan tumbuhnya keindahan
dari tanah subur yang mereka injak kini, tanah yang merupakan titipan dari Sang
Kuasa yang patut mereka jaga keutuhan serta keindahannya. Ini juga merupakan
pelajaran yang entah ke berapa kali untuk mereka, betapa kecilnya mereka di
tengah luasnya padang rumput, berhias gumpalan bunga yang nampak indah bila
dilihat dari awal mereka sampai di bukit cinta. Betapa tidak berdayanya mereka
untuk setidaknya menikmati semua keindahan itu karena keterbatasan kemampuan
fisik dan juga karena memang keadaannya mereka benar-benar kecil di tengah
luasnya dunia yang baru bagian seper sekian ratus ribu kilo meter bahkan jutaan
kilo meter dari keseluruhan luasnya dunia.
“kita sekarang ada di mana bro?” Tanya Samsul yang memecah
keheningan mereka.
“ini dinamakan oro-oro ombo, artinya adalah lapangan yang
luas, oro-oro itu lapangan, sedangkan ombo itu luas atau besar.”
Sobirin menjelaskan dengan baik dan benar.
“luar biasa alam yang diberikan Tuhan kepada kita.” Gumam Samsul.
“tumben kata-kata alay-mu gak keluar sul, haha….” sindir Wahyu.
“ku terpikat pada kehebatan Tuhan, yang menciptakan secuil surga
melalui alam semesta ini untuk makhluk-makhluknya tanpa pilih kasih”
“tumben sekali samsul ini, puitis. Ternyata dia bisa berubah
sifatnya karena tempat ini, atau mungkin kesambet, haha….” Zainur
menambahi sindiran wahyu.
“boleh gak memetik bunga indah ini zain?” Tanya Wahyu.
“heh…. Jangan ngawur, jangan sembarangan asal comot
aja.”
“kenapa?”
“kalau nanti kita turun dan kedapatan membawa bunga dari
sini, bukan tidak mungkin kalian disuruh untuk mengembalikan bunga ini di
tempat semula.”
“setega, sekejam, sekeji itu kah mereka pada kita, oh… ku tak
sanggup membayangkannya… OMG Hellow…..” sifat asli Samsul muncul
kembali.
“tolong kalian ingat-ingat dan resapi pesanku ini!, kita tidak
boleh mengambil apapun kecuali foto, tidak boleh meninggalkan apapun kecuali
jejak kaki, dan tidak boleh membunuh apapun kecuali waktu, ingat itu !”
ketegasan Zainur muncul kembali, sembari menatap tajam teman-temannya.
“terimakasih zain, keberadaanmu di tengah-tengah kami sangat
bermanfaat bagi perjalanan kita semua, oke..!, lebih baik kita melanjutkan
perjalanan kita kawan, perjalanan jauh dan berat masih menunggu kita di depan”
sambung Sobirin.
Satu per satu langkah mereka hanya meninggalkan jejak kaki, satu
pesan dari Zainur yang sudah dilaksanakan mereka. Sedikit demi sedikit bayangan
mereka lenyap dari pandangan puncak tanjakan cinta dan luasnya padang safana
oro-oro ombo. Sementara luasnya hutan cemara, tingginya pepohonan yang sekilas
sama rata menyimpan pesan kepada mereka, mereka harus berjalan dengan jarak
yang dekat saaat melewati hutan ini, karena apabila ada salah satu yang
berjalan dengan jarak yang jauh, bukan tidak mungkin akan tersesat. Keadaan
sekitar cukup sejuk karena rindangnya pepohonan cemara. Walau sebenarnya jam
sudah menunjukkan cerahnya mata dunia yang mulai memuncak. Tidak ada hal yang
cukup berkesan dari tempat ini, kecuali pesan yang mereka tangkap sendiri dari
lasnya hutan cemara yang mereka lewati kali ini. Tempat ini dinamakkan cemoro
kandang.
“kawan, kita akan melewati luasnya hutan cemara ini, dan kira-kira
sekitar 1 jam lagi kita akan sampai di kaki gunung semeru, yaitu kalimati.”
Zainur menginformasikan kepada teman-temannya.
11.30 WIB, molor setengah jam dari target mereka yang mengatakan
akan sampai di kali mati pada pukul 11.00 WIB. Di sini langkah kaki mereka
terhenti. Langkah terakhir mereka melewati cemoro kandang, dan langkah pertama
mereka menginjak kali mati. Kemegahan serta keagungan Gunung Semeru sangat
jelas terlihat dari kaki gunung ini. Bentangan pasir yang berdiri gagah
menancap di bumi, hiasan hijau pepohonan yang mengeliling sebatas lututnya,
menampakkan berbahayanya gunung ini, betapa susahnya pepohonan itu hanya untuk
sekedar hidup diatas lutut sang gunung.
“kita aka ngecamp di sini, saya mohon Sobirin dan Samsul
untuk mendirikan tenda dan menyiapkan makanan, sementara Wahyu ikut saya untuk
mengambil air, karena persediaan air kita yang sudah sangat memprihatinkan.”
Perintah Zainur kepada teman-temannya.
“oke!” sahut Samsul dan Sobirin.
“kita mengambil air di mana Zain?, ada kah sumber air di tempat
ini?, sementara kita hanya bengong saja saat kita melewati ribuah liter air di
ranu kumbolo.” Sahut wahyu.
“sudah Wahyu, kamu ikuti saya saja, bawa semua botol kosong yang
ada!”
“oke, …”
Zainur dan Wahyu mulai berjalan kembali untuk mengambil air sebagai
persediaan mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sementara Samsul dan
Sobirin sibuk mendirikan tenda dan menyiapkan makanan untuk mereka semua.
“kok adoh tenan tempat airnya.” Gumam wahyu.
“hihi…” tawa kecil Zainur menyadari Wahyu ngersulo dengan
keadaan.
“kenapa kamu ketawa zain?”
“sudah gak usah ngersulo sebentar lagi kok, kita hanya butuh
30 menit untuk mengambil dan kembali ke Kalimati.
Sesampainya di tempat pengambilan air, pelajaran luar biasa mereka
petik kembali. Betapa susahnya hidup di tengah hutan, karena semuanya serba
mencari dan membuat. Tidak ada yang instan. Bahkan untuk mengambil air pun
butuh kesabaran, karena air yang menetes dari akan pohon tak secepat yang
mereka kira.
Sementara di Kalimati, Samsul dan Shobirin sedang memasak, timbul
obrolan yang menggelitik hati yang
mendorong keingin tahuan mereka tentang gunung ini.
“Sob, pernah dengar kah kamu tentang cerita Gunung Semeru?” Tanya
samsul kepada Sobirin.
“saya hanya mengerti kalau gunung yang ada di depan kita ini adalah
gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa, dengan nama puncaknya adalah
mahameru dan kawahnya namanya Jonggring Saloko.”
“hanya itu?”
“iya.. hanya sebatas itu, tak lebih.”
“Whooy….sudah
siap belum makannya? Laper nih..” teriak wahyu dari kejauhan, yang
memaksa mengakhiri obrolan Sobirin dan Samsul.
“Siap…
sumonggo kakang prabu, daharanipun sampun siap!” sahut samsul dengan
gaya dan mimik wajah serta gaya tubuh selayak pembantu bangsawan.
Makanan
yang telah tersedia dilahap habis oleh mereka semua, sementara Zainur sedikit
termenung dengan keadaan sejuk dan damainya kalimati.
“kamu
kenapa Zain, kok nampak termenung seperti itu, sedang memikirkan apakah kamu?”
Tanya Sobirin mengakhiri lamunan Zainur.
“oh
Sob, kaget saya, ini saya hanya termenung memikirkan keadaan alam di sini,
walaupun semuanya terasa indah, tetapi di balik keindahan ini semua, alam dari
gunung ini menyimpan misteri ataupun mitos dan sesuatu yang berbahaya bagi
keselamatan kita”.
“apakah
itu?” Tanya Wahyu yang ikut nimbrung bersamaan dengan Samsul yang ikut gabung
dengan mereka semua.
“jadi
begini, ada mitos yang mengatakan bahwa gunung semeru ini seolah dipangku oleh
dewa yang sangat besar, pernah ada yang mengatakan bahwa ada orang yang seolah
melihat pangkuan dewa terhadap gunung ini, sementara puncaknya merupakan tempat
turunnya para dewa, dan dianggap tempat yang cukup sakral bagi pengikut ajaran
dewa. Dari hal inilah ada sebutan bahwa puncak gunung semeru, yang biasa
disebut mahameru dinamakan puncak abadi para dewa.”
“terus
yang kamu bilang menyimpan bahaya tadi seperti apa penjelasannya?” Tanya
Sobirin.
“berbahaya
karena gunung ini masih sangat aktif, sehingga sewaktu-waktu bisa saja gunung
ini meletus, sementara jalur pendakian menuju puncakya juga sangat berbahaya,
karena jalurnya yang berpasir dan tidak stabil strukturnya. Sering pula
terjadi, bongkahan batu yang jatuh menggelinding karena keadaan alam, dan juga karena
kesalahan para pendaki yang tidak mengecek keadaan batu saat melakukan
pendakian, kemungkinan juga batu tersebut dijadikan pijakan atau pegangan, dan
ternyata batu tersebut tidak menempel dengan baik dan akhirnya terlepas.”
“kewaspadaan
akan keadaan di sekitar kita serta tetap mengingat Tuhan adalah cara yang
paling realistis bagi kita dalam melewati perjalanan kita dari awal sampai
nanti kita di puncak kawan.” Sambung Sobirin.
“iya,
hanya itu yang bisa kita lakukan.” timpal Wahyu.
“oke
kawan, kita akhiri dulu obrolan kita kali ini. Dengan waktu yang sesingkat ini,
kita maksimalkan dengan istirahat, untuk persiapan kita naik ke puncak gunung
semeru, sementara saat kita naik nanti, semua barang kita tinggal di sini,
kita hanya membawa barang yang sekiranya kita perlukan, seperti air, makanan
kecil, senter, dan jangan sampai kita tidak memakai jaket!”
Suhu udara tengah malam di Kalimati terasa
menusuk tulang, dari termometer yang dibawa, menunjukkan suhu udara di kalimati
menunjukkan suhu -1 derajat celsius. Suhu yang ekstrim bagi orang-orang yang
terbiasa hidup di iklim tropis. Sementara mereka berempat sudah bersiap untuk
melanjutkan perjalanan menuju puncak.
“siapkah kalian menghadapi tantangan alam
ini?” tanya Zainur tentang kesiapan teman-temannya.
“belum apa-apa kita sudah dihadapkan dengan
suhu semacam ini....esttt huh...” gerutu Wahyu sembari menggosok-gosokkan
tangannnya yang bermaksud mengurangi rasa dingin yang menerpa tubuhnya.
“huh....kita gak perlu rokok untuk sekedar
meniupkan asap dari mulut kita, haha.” Canda Samsul untuk juga sekedar sedikit
mengurangi rasa dingin yang mendera.
“sudah siap semuanya?” tanya Sobirin.
“SIAP…..” Jawab mereka serentak.
“oke kita berangkat. Pastikan tidak ada barang
yang kita perlukan tertinggal di tenda.”
“terlebih kamera, jangan sampai
ketinggalan..hihi. bisa gaswat bin berabe kalau sampai tertinggal.” Tambah
samsul.
Tak lama kemudian mereka mulai melangkahkan
kaki mereka, dan menanamkan keinginan luar biasa untuk berdiri di puncak Gunung
Semeru. Satu persatu langkah pelan mereka menatap kepastian untuk tetap
melangkah menuju puncak harapan yang mereka tanamkan sebelum mereka berangkat
ke semeru. Yah, tepatnya satu bulan yang lalu di tempat tongkrongan mereka, di
rumah Sobirin. Di tempat itulah tercetus keinginan dan harapan itu yang pada
aakhirnya benar-benar membawa mereka di tempat ini. Tempat yang tak mungkin
bisa mereka lupakan seumjr hidup mereka, tempat yang menyimpan misteri yang
belum sama sekali mereka ketahui.
Jam menunjukkan perjalanan menuju puncak sudah
berjalan selama 3 jam, sementara puuncak masih terasa sangat jauh. Hanya
terlihat sorot lampu dari para pendaki yang lain, dan juga terlihat indahnya
cahaya bulan yang bertepatan dengan datangnya purnama menambah kesan yang beda
dalam perjalanan hidup mereka. Jiwa
sosial, kebersamaan, keramahan dan yang lain adalah pelajaran yang dapat
langsung mereka petik dan rasakan. Dalam perjalanan tersebut tidak jarang,
bahkan hampir semuanya seolah mengenal satu sama lain,
mereka menyapa, menegur, bahkan juga memberi semangat lebih bagi mereka saat
berpapasan dengan para pendaki lain. Tak jarang pula saling berbagi walaupun
tidak kenal sama sekali, mungkin ada
cahaya rasa yang keluar dari masing-masing hati mereka, bahwa barangmu adalah
barangku, barangku adalah barangmu juga. Seolah semua barang mereka juga untuk
mereka semua, tanpa memandang siapa mereka, dari mana mereka.
6 Jam telah berlalu, dan puncak yang mereka
idam-idamkan, tempat yang menjadi harapan mereka berdiri telah berada sedikit
di atas mereka, hanya beberapa langkah lagi.
“KAWAN...... Sebentar lagi kita mencapai
keinginan kita untuk menjadi orang tertinggi di pulau jawa..
SEMANGATTTTT!!!” Teriak Zainur yang menjadi pemimpin di rombongan mereka.
“SEMANGAT...” Teriak teman-teman yang lain
dengan sisa tenaga yang mereka punya.
Sentuhan tangan Mahameru akhirnya dapat mereka
rasakan. Setelah sekian lama mereka berjuang dengan kerasnya alam, bergelut dengan waktu, bergumul dengan dinginnya
suhu di sana. Haru, tangis, senyum, senang, bahagia, capek, letih, dan semua
yang mereka rasakan seolah menjadi bumbu penyedap dalam masakan langkah kaki perjalanan
mereka menuju tempat yang mereka harapkan sejak awal.
“kita berhasil kawan.. kita sampai di M A H A M E R U U U U U U U U U U U.” Teriak Zainur sembari memeluk teman-teman yang lain,
yang terlihat terharu dengan keberhasilan mereka.
“Puncak abadi para dewa telah kita pijak kawan.” Sambung Sobirin.
“impian menjadi orang tertinggi di pulau jawa
telah menjadi titel kita kali ini kawan.” sahut samsul.
“yang pasti perjuangan yang telah Zainur
ucapkan diawal telah membuat kita berdiri disini, Langkah juang kaki tangan
serta jiwa tuk capai petala teratas Mahameru.” Wahyu menambahi kata yang
terucap kdari kawan-kawannya.
Tempat yang seolah dekat dengan langit, dekat
dengan sang Maha Kuasa, menjadikan kesadaran hati mereka akan kuasa Sang Ilahi.
Keindahan alam yang terlihat dari puncak sangat luar biasa, menjadikan mereka
sadar akan kecilnya mereka, akan tidak berdayanya mereka, akan
lemahnya mereka. Seolah pula mereka berada diatas awan yang mengangkat mereka
terbang menuju singgasana turunnya para dewa.
“PUCAK ABADI PARA DEWA............ KAMI TELAH
DATANG......” Teriak mereka bersama-sama.
Pada akhirnya, keinginan yang kita tanam dan
kita tancapkan pada hati dan pikiran kita akan kita capai dalam waktu yang sama
sekali tidak kita ketahui. Hanya jalan Tuhan yang menuntun kita pada suatu hal yang
menjadi angan, cita-cita, asa, harapan, serta keinginan kita. Makhluk hanya
bisa berbangga dengan karya Tuhan, namun jangan juga hanya berbangga, tahu dan
sadar akan kuasa Tuhan dalam hidup kita lebih terasa bermakna, dari pada kita
hanya bisa berbangga dengan apa yang ada tanpa meresapi ada apa dengan apa yang
ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar